Lesson Study, Wahana Ampuh bagi Guru dalam Mengembangkan Keprofesiannya secara Berkelanjutan

Posted: Desember 14, 2012 by Admin in Uncategorized

Melalui berbagai kegiatan Diklat keguruan di Papua dapat diketahui, bahwa masih banyak guru pesimistis dengan diluncurkannya Kurikulum 2013. Ada yang bingung, pasalnya Kurikulum Berbasis Kompetesi 2004 dan KTSP 2006 saja belum dilaksanakan dengan baik, belum sampai 10 tahun akan muncul ‘makhluk baru’ Kurikulum 2013.  Sebenarnya, permasalahan yang urgen justru bukan terletak pada ‘nama’ maupun ‘bentuk’ kurikulum. Apa pun nama dan bentuk kurikulum pengganti, kalau tidak disertai komitmen guru untuk merubah gaya (performance), pendekatan, strategi maupun metode pembelajaran adalah sia-sia belaka. Sebagaimana KBK dan KTSP, sebenarnya kurikulum 2013  menuntut pembelajaran yang mengarah kepada pembekalan kecakapan hidup (life skill) bagi anak didik. Hanya saja ide munculnya kurikulum 2013 yang dikomandoi oleh Guru Bangsa yang dibentuk Bapak Wakil Presiden Indonesia menekankan kepada pemberdayaan ASK (attitude, skills dan knowledge) secara terpadu melalui proses pembelajaran.

Yah “proses pembelajaran”; lagi-lagi melibatkan keterampilan guru untuk mendesain dan melaksanakan pembelajaran yang lebih besar mengaktifkan siswa. Dalam hal ini paradigm baru yang muncul yaitu siswa: “DARI DIBERITAHU” menjadi “MENCARI TAHU”.  Kecakapan hidup akan diperoleh siswa, ‘jika hanya’ proses pembelajaran lebih banyak melibatkan keaktifan dan kreativitas siswa untuk mencari tahu (learning to know), melakukan sesuatu (learning to do), kemampuan untuk menjadi diri sendiri (learning to be), serta belajar kooperatif/bekerja sama dalam memecahkan masalah (learning to life together).

KTSP yang telah memberikan otonomi implementatif kepada daerah  dan sekolah (baca: guru) dalam porsi yang lebih besar, sehingga memungkinkan guru mengembangkan seni dan gaya mengajarnya, ternyata di kelas kurang maksimal. Di dalam berbagai pertemuan guru banyak yang mengaku, bahwa apa pun kurikulumnya jika CARA MENGAJAR GURU TIDAK BERUBAH ya tidak aka nada perubahan. Banyak guru mengaku kesulitan mengembangkan Standar Isi ke dalam perencanaan pembelajaran, sehingga terjadi berbagai variasi yang kurang efektif mengarah kepada SKL. Oleh karena itu dalam Kurikulum 2013 pemerintah mengambil kembali porsi tersebut, sehingga guru tinggal membuat RPP dan melaksanakan sesuai arahan silabus yang telah dikembangkan pusat.

Jadi guru tidak lagi terlalu berat menyiapkan administrasi perencanaan pembelajaran tetapi lebih banyak MENGASAH PELAKSANAAN PEMBALAJARAN EFEKTIF: AKTIF, INOVATIF,  KREATIF, dan MENYENANGKAN. Guru lebih banyak mengembangkan atau memfasilitasi siswa belajar dengan mengalami. Pengalaman siswa melalui interaksi dengan lingkungan belajar sesuai tujuan pembelajaran (contextual teaching and learning). Sehingga siswa akan mengalami proses belajar yang penuh makna (meaningfull learning) serta menyenangkan (enjoyfull). Inilah demokrasi dalam pembelajaran, yaitu suasana belajar yang merupakan perwujudan proses dari, oleh dan untuk siswa. Jadi profesionalisme gurulah yang dituntut, untuk senantiasa mampu merancang skenario dalam Rancangan Pembelajarannya (RP), sebagaimana kelincahan seorang pembuat skenario dalam sebuah drama (kegiatan pembelajaran).

Program PKB yang harus dilakukan guru sepanjang tahun memungkinkan guru BERKOLABORASI dengan guru lain melalui MGMP, KKG dan sejenisnya untuk mewujudkan kemampuan tersebut. Lesson Study yang sudah sering kita dengan dan sudah diterapkan di beberapa daerah dapat dijadikan wahana belajar dalam rangka PKB. Nah dalam tulisan ini akan diingatkan kembali: apa dan  bagaimana Lesson Studi dilaksanakan. Apa manfaatnya dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru, serta manfaat lainnya dapat dicermati melalui tulisan di bawah ini.

 

Lesson Study (LS)

Pada saat-saat tuntutan professional yang kian menguat ini, ada kabar gembira bagi semua guru yang sedang pesimistis. Karena Lesson Study (LS), sebuah model pengembangan profesionalitas secara kolaboratif asal Jepang, telah mulai dibudayakan di Indonesia. Fernandez  dan Yoshida (2004:7) mengemukakan, “lesson study (LS) is a direct translation for the Japanese term jugyokenkyu, which is composed of two words: jugyo, which means lesson, and kenkyu, which means study or research. As denoted by this term, lesson study consists of the study or examination of teaching practice”.

Dalam uraian di atas jelas, bahwa LS merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang (Negara asal LS, penulis), yang terdiri dari kata jugyo (lesson=Eng) dan kyenkyu (study or research). Berdasarkan istilah tersebut, LS dapat diartikan sebagai suatu studi atau langkah-langkah pemeriksaan (menilai dan menyempurnakan) terhadap kegiatan praktik mengajar di kelas. Bagaimana guru-guru di Jepang melaksanakan proses ini dalam kegiatan LS? Mereka melaksanakannya dengan rumus: plan, do, see. Pertama, sekelompok guru mempersiapkan LS dengan cara mendiskusikan suatu rencara kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh seorang guru di antara mereka, mulai dari menganalisis kompetensi, merancang scenario dalam RP, media, alat dan proses penilaian yang disesuaikan kondisi siswa.  Kegiatan ini disebut plan.

Selanjutnya guru yang mendapat kesempatan tersebut melaksanakan praktik pembelajaran di kelas, sedangkan yang lainnya melakukan pengamatan terhadap perilaku belajar siswa. Kegiatan ini dinamakan do.Setelah itu diadakan kegiatan refleksi tentang bagaimana praktik pembelajaran dilaksanakan, sesuaikah dengan scenario yang telah dirancang di RP? Hal ini juga sangat mempertimbangkan hasil pengamatan dari guru-guru pengamat, dengan maksud untuk lebih menyempurnakan praktik pembelajaran yang akan dilakukan ke depan, baik bagi guru pemeran maupun guru-guru pengamat. Kegiatan ini dinamakan see.

Lebih lanjut Fernandez  dan Yoshida (2004:7-9) mengemukakan:

There are 6 (six) steps to implement of the lesson study: (1) Collaboratively Planning the Study Lesson, (2) Seeing the Study Lesson in Action, (3) Discussing the Study Lesson, (4) Revising the Lesson (Optional), (5) Teaching the New Version of the Lesson  (Optional), and (6) Sharing Reflections About the New Version of the Lesson.”

 

Dari uraian tersebut dapat diartikan, ada 6 (enam) langkah untuk melaksanakan LS, yaitu: (1) memusyawarahkan/menyiapkan rencana LS secara bersama-sama, (2) mengamati pelaksanaan LS secara bersama-sama, (3)  mendiskusikan/menilai pelaksanaan LS pertama, (4) memperbaikinya, jika diperlukan, (5) melaksanakan pembelajaran dengan model baru, hasil revisi, dan  (6) refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran yang disempurnakan tersebut.

Hendayana dkk (2006:10) mengatakan, bahwa LS adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Selanjutnya dijelaskan, LS dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continuous improvement).

Dari uraian di atas kita memperoleh informasi yang cukup tentang LS, bahwa LS merupakan salah satu ‘model pembinaan profesi pendidik’ melalui suatu kegiatan pengkajian pembelajaran secara kolaboratif/bersama-sama dan berkelanjutan tanpa akhir dengan prinsip kolegalitas, yang meliputi tiga proses kegiatan; plan, do dan see.  Hal ini merupakan angin segar bagi guru, bahwa dengan segala keterbatasan dan ke-pesimistisannya untuk mengemban tuntutan pembelajaran bermutu dan berpusat pada siswa, maka  LS-lah jalan keluarnya. Sekelompok guru dapat bertukar pikiran, berbagi pengalaman, mendiskusikan berbagai kesulitan dalam praktik pembelajaran, untuk selanjutnya secara bersama-sama meramu/merencanakan, melaksanakan, serta mengadakan refleksi demi perbaikan praktik pembelajaran berikutnya. Dapat dibayangkan, apabila guru pemeran ini bergiliran, dan kegiatan dilaksanakan secara kontinyu,  maka dapat diprediksi kegiatan ini ‘tak kan pernah berakhir (never the end.).

 

Kiat Mengembangkan dan Melaksanakan LS

LS dapat dikembangkan di tingkat sekolah atau MGMP oleh sekelompok guru yang sejenis maupun serumpun, asalkan memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas praktik pembelajarannya. Komitmen adalah ‘harga mati’ sekaligus syarat untuk bisa terbentuknya kelompok LS. Niat kuat, semangat dan usaha yang konsisten untuk berubah merupakan bentuk komitmen yang harus ada bila ingin mengembangkan LS. Ya, meskipun LS hanya dilakukan oleh sekelompok yang berjumlah dua orang guru!

Menurut Lewis (2002: 51-52), ada beberapa tahapan untuk mengimplementasikan LS, yaitu: (1) Membentuk grup LS, (2) Memfokuskan kegiatan LS, yaitu memilih mata pelajaran dan topiknya (lesson), (3) Merencanakan research lesson (RL), (4) Mengajar & mengamati RL, (5) Mendiskusikan dan menganalisis RL, dan (6) Merefleksikan LS  dan merencanakan tahap berikutnya.

Secara ringkas pelaksanaan kegiatan mengajar dan mengamati saat RL berlangsung, yaitu: guru yang ditunjuk mengajar lesson yang sudah ditetapkan, anggota kelompok yang lain mengamati lesson tersebut, dan pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Data yang dikumpulkan selama LS tersebut hendaknya mengacu pada beberapa indicator RL, sehingga terkumpul bukti tentang:  bagaimana siswa belajar, bagaimana motivasi siswa,  bagaimana iklim sosial/suasana hubungan di kelas,  ucapan atau ceramah guru, dan  waktu yang digunakan guru pada setiap elemen/langkah pelajaran. Inilah yang digunakan sebagai indikator observasi oleh para guru pengamat, yang selanjutnya dijadikan perhatian saat diadakan refleksi. Melalui tanggapan dari seluruh peserta LS saat refleksi tersebut, diharapkan akan terjadi perbaikan terhadap pelaksanaan indikator-indikator RL tersebut dalam kegiatan LS berikutnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat refleksi, yaitu: guru yang mengajar RL diberi kesempatan menjadi pembicara pertama dan mempunyai kesempatan untuk mengemukakan semua kesulitan dalam pelajarannya sebelum kesulitan tersebut dikemukakan oleh yang lain. Sebagai suatu aturan main, pelajaran yang disampaikan merupakan milik semua anggota kelompok LS. Ini adalah pelajaran “kita”, bukan pelajaran “saya”, dan hal ini direfleksikan dalam setiap keterangan setiap orang. Dimana semua anggota kelompok berasumsi bahwa mereka bertanggungjawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang ada pada pelajaran tersebut.

 

Senjata Ampuh Mengembangkan Keprofesian Guru

Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa kualitas pembelajaran di kelas kita masih rendah. Pendekatan siswa sentries, metode tradisional ceramah dan tanya jawab, kurang variatif (monoton) masih banyak mewarnai kegiatan pembelajaran di kelas. Kenapa siswa jemu, lesu dan tidak bersemangat belajar? Kenapa guru juga bosan, lesu, sering marah saat berada di kelas? Permasalahan sama antara siswa dan guru, yaitu suasana monoton, tidak menyenangkan, tidak menantang, dan ‘itu-itu saja’!

Uji kompetensi sudah dilaksanakan dan hasilnya sudah banyak disosialisasikan. Guru telah dipetakan level profesionalitasnya, dan tentu akan berimbas kepada penghargaan yang akan diterimanya. Jadi apabila kita ingin “dihargai” secara lebih baik (menjadi sejahtera), sudah sepantasnya kita berubah pula (kualitas profesi kita). Sebagian besar guru justru aktif mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan sejenisnya untuk mendapatkan sertifikat, bukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran: melalui penelitian tindakan kelas, misalnya.

Adalah tidak adil jika kita cukup puas dengan derajad pelayanan professional kepada anak bangsa ini seperti saat ini. Kita harus meningkatkannya semaksimal mungkin. Jika seorang diri merasa berat, kenapa tidak berkolaborasi dengan guru-guru lain melalui LS. Dengan LS, suasana saling ‘asah, asih dan asuh’ (saling berkompetisi, saling menerima, dan saling memberi) terjadi. Setiap diri pasti memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih atau kurang. Dengan berkolaborasi, masalah di atara kita akan terpecahkan. Yah, menjadi guru profesional. Pastikan Anda menjadi inspirator, bahkan pioneer terbentuknya kelompok LS di sekolah atau KKG/MGMP di mana Anda berada! Ajaklah siapa saja yang ingin berubah, dan mau merubah nasib anak bangsaq menuju Generasi Emas 2045!

Salam sejawat dan seperjuangan (Nurhadi, SMAN 5 Jayapura Papua)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s