Oleh: Nurhadi, M.Pd (SMAN 5 Jayapura Papua)

Pada tanggal 8 Januari 2013, Mahkamah Konstitusi dalam sidangnya MENGABULKAN gugatan terhadap keberadaan RSBI (Rintisan Sekolah Bertarif Bertaraf Internasional). Menurut Hakim Ketua MK, Prof. Mahfud MD, bahwa permohonan penggugat dinilai beralasan menurut hukum.  Putusan ini dikeluarkan oleh MK setelah menimbang bahwa keberadaan RSBI dan SBI tidak sesuai dengan konstitusi yang ada (Kompas). Dalam memutuskan kasus ini, MK telah mendengarkan keterangan penggugat yang mengajukan judicial review atas Pasal 50 ayat 3 UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.

Di dalam tulisannya, Yusro (seorang guru) di http://edukasi.kompasiana.com menyetujui putusan MK tersebut i, dengan alasan, sbb:

    • Biaya yang mahal di RSBI yang mengakibatkan tidak terjangkaunya sekolah itu untuk masyarakat kecil. Hal ini adalah efek dari kebijakan RSBI yang membolehkan memungut iuran dari masyarakat (orang tua siswa) dengan alasan untuk pembenahan/peningkatan sarana dan prasarana sekolah RSBI. Menurut peneliti ICW, Siti Juliantari: “Adanya pungutan ini tentu memberatkan warga miskin yang ingin merasakan pendidikan berkualitas,”.
    • Timbulnya Kastanisasi pendidikan / Stratifikasi antara sekolah RSBI-SBI dengan non RSBI-SBI. Sekolah RSBI termasuk guru-guru di dalamnya cenderung merasa lebih “hebat” atau “superrior” dibandingkan sekolah biasa.
    • Walaupun dalam UU, RSBI menyediakan kuota 20 persen untuk siswa miskin, justru ini makin memperkuat diskriminasi terhadap siswa miskin. Padahal, dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dijelaskan bahwa pendidikan merupakan hak semua Warga Negara Indonesia.
    • Sekolah Berkualitas, itu tidak melulu identik dengan biaya tinggi atau SEKOLAH MAHAL. Jika ini yang menjadi mindset sebagian masyarakat kita atau pemegang kebijakan, maka akan hancurlah mentalitas personal dalam pranata sosial kita, yang selalu menilai segalanya dengan materi (duit). Pertanyaan berikutnya, adalah bagaimana tanggung jawab negara terhadap pendidikan berkualitas ?

Selanjutnya Yusro menegaskan, bahwa saat ini dengan tingginya Anggaran Pendidikan Nasional di APBN serta telah disejahterakannya guru melalui Tunjangan Profesi Guru, maka PENDIDIKAN MURAH BERKUALITAS itu bukan sekadar MIMPI. Dan ada atau tidak adanya RSBI, toh pendidikan bisa terus kita pacu menjadi lebih baik, BUKAN BERARTI KUALITAS PENDIDIKAN kita akan menurun, jika RSBI hilang. kUNCINYA KEJUJURAN dalam pengelolaan dana pendidikan pada setiap level, serta PROFESIONALITAS GURU selaku pendidik. Profesionalitas Guru dapat digenjot dengan menerapkan KEGI (Kode Etik Guru Indonesia) dengan benar dan tanpa pandang bulu, bagi guru yang bagus diberikan REWARD, dan bagi guru yang malas diberikan SANKSI yang sesuai peraturan undang-undang.

Penulis juga sependapat dengan Yusro di atas. Kunci keberhasilan pendidikan kita pada upaya pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP) secara merata di seluruh tanah air, terutama perhatian ditujukan kepada daerah-daerah atau satuan pendidikan yang masih belum mencapai 80% standar. Upaya menggalang partisipasi masyarakat  dengan “MEWAJIBKAN KAUM KAYA” untuk membantu pemenuhan SNP  sebagai mana “WAJIB MILITER” perlu dipikirkan.

Berdasarkan pengakuan/pengalaman guru, pengamat pendidikan dan berbagai tanggapan masyarakat (Editorial Media Indonesia, Metro TV 10 Januari 2013), dapat disimpulkan bahwa kurikulum atau model sekolah apa pun tidak akan berhasil meningkatkan kualitas pendidikan apabila tidak ada goodwill dari guru untuk memberikan layanan didik secara professional. Guru, termasuk penulis harus menyadari hal itu. Tidak ada RSBI/SBI tidak menjadi soal, karena persoalan ada pada diri kita sebagai guru: sudahkah kita melaksanakan pembelajaran atau membelajarkan siswa dengan sepenuh hati, jujur, penuh kejuangan, perhatian (aware), menguasai kurikulum dan metodologi pembelajaran yang tepat? Jika kita semua guru di Indonesia memperhatikan hal itu maka semua sekolah akan dapat bersaing secara internasional.

Bukankah Jepang begitu menjunjung tinggi bahasa nasional serta adat istiadatnya? Namun karena pendidikan di Jepang dikelola dengan baik, semua (stake holder) berperan secara baik maka sekolah-sekolah di Jepang menghasilkan output dan outcomes yang baik, di atas rata-rata kualitas internasional. Kita Bangsa Indonesia, sekolah di Indonesia, guru Indonesia, dan siswa Indonesia yakinlah bisa melakukan hal seperti itu. Kita memiliki sumber daya yang lebih melimpah, hanya yang kurang adalah “semangat”, “keterpanggilan”, “tanggung jawab”, dan “nasionalisme”. Dalam kata lain dapat saya sebut sebagai “KEHILANGAN ROH”!!!

Pola Pendidikan Di Rumah Masih Miskin Dengan Sentuhan Spiritual

Oleh: Marjohan

Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

(Program Layanan Keunggulan)

Walau agama Islam lahir di Timur Tengah lebih dari 15 abad yang lalu namun pemeluk terbesar agama ini adalah di Indonesia. Tentu saja kita (pemeluk Islam di Indonesia) merasa bangga dengan status negara sebagai mayoritas pemeluk Islam terbesar di dunia. Namun kita perlu berfikir- melakukan refleksi- tentang apakah sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia, jumlah yang besar hanya dari segi kuantitas namun untuk kualitas cendrung amat rendah, karena pemeluknya masih jauh dari pemahaman dan pengamalan spiritual dan cenderung mengadopsi nilai hedonisme (paham mencari kesenangan hidup) semata mata.

Jauhnya kita- sebagai pemeluk Islam- dari pengamalan agama yang berkualitas adalah gara-gara pola pendidikan di rumah yang miskin dari sentuhan spiritual. Diduga ada banyak faktor sebagai penyebabnya, beberapa di antara nya adalah akibat kehadiran televisi di rumah yang amat sarat dengan nuansa sekuler, kepedulian orang tua yang berlebihan terhadap fasilitas hiburan daripada pendidikan. Karena kualitas pengajaran agama di rumah hanya sebatas pandai membaca abjad Arab atau alif- ba- ta saja dan akibat dari pemodelan- panutan atau suriteladan- orang tua yang lemah dalam mengimplementasi kan ajaran agama.

Televisi memberikan dampak negatif dalam mengikis nilai spiritual. Kehadiran tabung elektronik ini di tengah keluarga bangsa Indonesia dimulai sekitar tahun 1980-an.. Saat itu televisi mungkin masih dianggap sebagai kebutuhan lux atau kebutuhan sekunder. Karena saat itu hanya keluarga yang tergolong mampu yang bisa memiliki pesawat televisi. Kemudian sekitar tahun 1990 pesawat televisi secara besar- besaran hadir di tengah masyarakat. Maka benda ini tidak lagi dianggap sebagai barang mewah, namun sudah dianggap sebagai kebutuhan primer, karena kadang kala penduduk dengan rumah gubuk juga mampu menghadirkan pesawat televisi dengan layar jumbo di tengah keluarga mereka.

Pada mulanya program televisi dirancang oleh orang yang berduit- pemilik stasiun televisi adalah untuk memberi masyarakat Indonesia program pendidikan dan program hiburan yang masih ramah lingkungan. Serasi dengan warna dan corak adat kita sebagai bangsa timur- memperhatikan nilai agama dan nilai adat istiadat. Pada masa itu orangtua masih bisa bersyukur atas kehadiran televisi yang belum begitu mencemaskan terhadap perkembangan anak. Dampak televisi pada waktu itu hanya baru sebatas membuat anak- anak kecanduan duduk berjam-jam di depan pesawat televisi dan mengabaikan pelajaran.

Namun sejak pengelola media masa – media cetak dan media elektronik- sudah kehilangan misi suci untuk mendidik bangsa ini dan atas nama globalisasi mereka merasa enteng untuk menghadirkan program hiburan yang kurang berkualitas ditinjau dari segi agama dan sebagai bangsa timur. Maka itulah awal bangkitnya krisis demi krisis dan melangkah masuk ke tengah keluarga bangsa Indonesia.

Karakter sebahagian orang kita yang punya kebiasaan menonton televisi selama berjam- jam membuat sesuatu yang mereka tonton membekas dalam diri mereka. Karena sesuatu yang dilihat atau ditonton berulang-ulang bisa mempengaruhi prilaku seseorang. Sementara itu kita tahu bahwa materi utama dari program televisi adalah iklan dan rentetan hiburan demi hiburan. Iklan yang ditayangkan tujuannya adalah untuk mengajak dan menjanjikan gaya hidup yang konsumerisme, gaya hidup serba mewah dan serba megah. Program- program yang ditayangkan televisi lambat laun akan mampu untuk mencuci otak jutaan penonton yang umumnya adalah anak- anak muda.

Hiburan yang dikemas dengan menghadirkan figur selebriti- artis dan presenter- yang sengaja dipoles dengan gaya sekuler, jauh dari nilai agama, ini terpantul dari gaya mereka dalam berpakaian, bertindak dan bertutur, telah mengajak jutaan penonton yang berusia muda agar bersikap dengan cara yang sama. Di saat program televisi tidak lagi sebagai sahabat bagi keluarga, namun hanya sebagai pembawa mudharat atau bencana atas pelunturan nilai budaya itu sendiri. Maka cara yang tepat bagi orang tua adalah agar memilih atau mengatur jam tayangan program televisi sesuai dengan pola pendidikan dan pola pengasuhan anak di rumah. Atau mungkin mereka tidak perlu membeli pesawat televisi sama sekali.

Fenomena yang terlihat sekarang adalah bahwa rumah tangga terlihat lebih kaya dengan sarana hiburan namun miskin dengan sarana pendidikan. Orang tua lebih peduli untuk menghadirkan sarana hiburan buat keluarga dengan kemampuan dan ukuran kantong mereka dari pada menghadirkan sarana pendidikan . Adalah cukup mudah bagi kita untuk menemui sarana hiburan seperti VCD player, paly station, tape recorder sampai kepada menghadirkan sarana hiburan yang berharga sangat mahal. Tentu saja tidak ada salahnya bila orang tua menyediakan sarana hiburan seperti ini, namun adalah kurang bijaksana apabila mereka kurang peduli untuk melengkapi sarana belajar keluarga.

Inilah kenyataan bahwa lebih mudah bagi kita untuk menjumpai kepingan VCD dangdut atau film kartun- karena umumnya orang kita masih demam gemar menonton- dari pada menemui buku , majalah dan koran yang berkualitas pada tiap keluarga. Pada hal salah satu fungsi bacaan adalah untuk mendidik anggota keluarga. Tetapi kalau bangsa kita belum terbiasa membaca maka bagaimana mereka bisa menjadi orang yang kritis dalam berfikir. Kita tahu bahwa salah satu manfaat dari kebiasaan membaca adalah untuk membentuk seseorang menjadi orang yang kritis dan analitis dalam berfikir.

Kita tahu bahwa banyak rumah tangga yang belum memiliki perpustakaan mini sebagai sarana belajar keluarga. Yang baru ada yaitu kepedulian orang tua untuk menyediakan bioskop sebagai sarana hiburan keluarga. Maka kalau kualitas bangsa ini lemah dalam bidang pendidikan (membaca), tentu inilah salah satu sebagai penyebab ya- kita miskin dengan kualitas pendidikan. Untuk itu kini adalah tepat kalau orang tua juga peduli untuk menghadirkan perpustakaan mini sebagai sarana belajar keluarga. Dan juga sangat tepat bagi keluarga untuk menanamkan kebiasaan dan kegemaran membaca- bagi anggota keluarga sejak dini bagi anak anak mereka.

Untuk menjadi warga yang berkualitas maka setiap anggota masyarakat harus gemar membaca. Ajakan atau perintah untuk membaca akan kurang berarti kalau hanya sekedar memerintah atau menyuruh saja. Menyediakan sarana belajar dan memberi mereka model langsung adalah sangat efektif. Karena Pemberian model jauh lebih efektif dari pada memberi mereka khotbah sebanysk seribu kali. Maka sebelum anak menyukai membaca tentu orang tua harus membiasakan diri untuk membaca terlebih dahulu.

Pendidikan agama bagi keluarga, dalam bentuk khutbah dan ceramah dari orang tua untuk membentuk anak akhlak anak, cendrung kurang bermanfaat, karena khutbah dan ceramah akan dirasakan sebagai hal yang serba membosankan. Yang lebih berkesan dalam mendidik agama atau spiritual anak adalah melalui pemberian model langsung dari orang tua, dan kemudian melibatkan anak secara langsung dengan kegiatan beragama bersama orang tua dan anggota keluarga yang lain. Orang tua perlu menetapkan prilaku yang standard untuk bertindak bagi anggota keluarga, misalnya tata cara berpakaian, cara berkata, bergaul dengan tetangga, dan lain- lain, yang sesuai dengan ajaran agama dan harus dicontohkan atau dimodelkan oleh terlebih dahulu oleh orangtua. sangat tidak bijak, misalnya, bila seorang ayah hanya pandai menyuruh anak untuk rajin shalat serta itu ia jarang dalam membaca kitab suci, sementara dia sendiri bolong- bolong dalam beribadah dan tidak pernah terlihat oleh anak menyentuh kitab suci untuk dibaca. Atau ibu yang hanya pandai menyuruh anak gadisnya berpakaian muslim sementara dia sendiri berpakaian you can see, celana hawaii dan pakaian ketat serta rambut diberi cat dengan penampilan mirip dengan selebriti atau presenter televisi.

Kita akui bahwa pemahaman umat Islam di Indonesia terhadap kitab suci Al Quran hanya sebatas pandai membaca alphabet “alif-ba- ta” saja, tanpa pernah mengerti apa yang dibaca. Membaca al-Quran seperti ini dianggap belum sampai ke dalam hati sanubari, tetapi baru sebatas kerongkongan saja. Idealnya untuk peningkatan pemahaman al Quran adalah dengan menggunakan metode translation (menterjemah) untuk pembelajaran ,di TPA dan TPSA. Tentu saja ini perlu kajian dan manajemen khusus, serta memberi mereka gaji yang berkualitas dengan gaji yang juga tinggi.

Atau juga tepat apabila kalau pembelajaran al Quran di TPA dan TPSA menggunakan pendekatan khusus, yaitu kursus bahaa Arab setelah santri anak didik tuntas dalam membaca Al Quran. Tentu saja kelak jumlah pemeluk Islam yang menguasai bahasa Al Quran atau bahasa Arab jumlahnya melebihi dari orang yang mengerti bahasa Inggris dan pada hakekatnya kelak umat islam di Indonesia tidak lagi seperti buih di pinggir pantai, jumlahnya banyak tetapi mudah hancur ditiup oleh badai kehidupan. http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

Marjohan, guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Program Pelayanan Khusus

Guru Profesional Ibarat Seorang “Koki”

Posted: Januari 2, 2013 by Admin in Uncategorized
Tag:

Aku selalu bertanya apakah aku seorang guru yang baik? Tidak mudah menemukan jawaban itu. Namun aku selalu berusaha dari hal yang kecil-kecil dan dekat denganku sebagai seorang guru. Yang kecil dan dekat itu adalah kelasku. Kelas bagiku bukan hanya sebuah ruangan yang berukuran 6 x 8 m tapi sebuah ruangan yang harus diisi dengan aroma menyegarkan bagi yang berada di dalamnya. Kelasku selalu ingin kujadikan surga kecil bagi yang memasukinya. Surga kecil yang akan selalu dirindukan oleh siapa saja yang pernah memasukinya.

Bagaimana caranya menghadirkan surga kecil di dalam kelas? Seorang guru pun bisa kita ibaratkan seorang koki. Mengapa? Pekerjaan seorang koki akan selalu meracik bumbu, memasak bahan makanan, dan menyajikan makanan yang diharapkan bisa dinikmati pelanggan/pembeli. Guru tentunya akan selalu mempersiapkan bahan-bahan ajar dan menyampaikannya pada siswa dengan harapan akan disukai dan dinikmati siswa.

Saat di dalam kelas, aku selalu berusaha menghidangkan menu-menu lezat tersebut agar siswaku betah sampai batas waktu harus meninggalkan kelas. Kepuasan tersendiri bila kumendengar celetukan,”Ya … habis?! Besok ketemu lagi ya, Pak.” Menu-menu lezat yang kuhidangkan bukanlah menu-menu instant, tapi menu-menu yang telah disiapkan dengan resep yang diramu dari beragam pengalaman yang berulang-ulang. Menu lezat berupa kelas yang indah dengan memberikan warna-warna dan tempelan-tempelan yang bisa memberikan semangat terhadap pelajaranku. Menu dengan metode-metode kreatif hasil modifikasi beragam pengalaman dengan melibatkan suasana antusias siswa.

Kadang tidak semua siswaku berselera menikmati hidangan yang telah kupikirkan dan kuracik dengan bumbu-bumbu pilihan. Ada yang bilang terasa hambar, ada yang bilang terlalu asin, bahkan ada yang bilang terlalu manis. Kubelajar menata hati untuk tidak mudah kecewa dan putus asa. Kebesaran jiwa untuk bertanya pada siapa saja yang telah banyak memiliki bumbu pengalaman agar menu lezatku benar-benar menjadi lezat. Aku yakin dengan terus mencoba dan memodifikasi beragam bumbu pengalaman rekan-rekan  guru yang profesional maka akan tercipta menu lezat yang benar-benar lezat.

Ketika kita menikmati hidangan lezat tentunya akan semakin berasa bila didampingi dengan juice beraneka ragam buah. Menu makanan dalam bentuk metode-metode pembelajaran yang kreatif, maka juice buah yang diberikan bisa dalam bentuk pilihan kata-kata yang menyejukkan dan memotivasi. Menyampaikan menu agar sampai  ke dasar hati siswa memang perlu dengan kata-kata menyentuh dan berirama. Kata-kata harus bergelombang dan menggelora. Akan sangat membosankan bila kata-kata itu hanya datar. Perlu belajar menggelombangkan kata-kata yang kita keluarkan agar berirama indah di telinga siswa kita. Siswa sekarang jelas berbeda dengan siswa beberapa periode yang lalu. Ibarat cangkir mereka punya hak untuk meminta apa yang isinya yang akan dikeluarkan oleh sebuah teko. Mereka bebas memilih apakah yang diinginkannya. Bisa teh, kopi, susu, cappuccino, dan lain-lain sesuai selera mereka. Guru yang akan diterima anak didik sekarang harus bisa belajar membuatkan racikan minuman yang pas dengan selera siswa. Kalau pun belum mengerti yang diinginkannya, kita harus belajar dan terus belajar  menemukan rahasia racikan minuman yang diinginkan siswa kita.

Aku selalu mencari racikan makanan, juice, dan minuman dengan belajar pada banyak hal. Aku selalu menyisihkan waktu senggang yang kumiliki untuk menyusun skenario sebelum  memasuki kelasku. Skenario yang ada dalam pikiran kubuat detil dengan langkah-langkah yang lebih nyata. Aku berusaha mendata siswa yang akan kuajar dan sedapat mungkin mengenalinya luar dan dalam serta kemampuan dan kepribadiannya agar aku mudah untuk menariknya ke dalam kelasku. Aku harus menyusun strategi agar dalam hal teknologi aku tidak ketinggalan dari siswaku.  Aku akan selalu memanfaatkan beragam teknologi pengajaran agar menu materi yang kusajikan tampak berwarna di mata siswaku. Apabila makanan, juice, dan minuman rahasianya telah kita ketahui maka akan semakin mudah kita menarik hati siswa untuk mengikuti irama yang ingin kita sampaikan. Apabila resep, cara kerja dan kreativitas seorang koki kita pakai untuk guru dalam melaksanakan tugas di kelas, tentu guru akan dicari oleh para pelanggannya: siswa. Berdasarkan uraian di atas boleh dikatakan bahwa hampir tidak ada bedanya antara tuntutan tugas sebagai guru dengan profesi sebagai enterpreneur yaitu memuaskan penaggannya masing-masing. (Bambang Kariyawan YS, M.Pd., Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru)

Tahun Baru Kurikulum Baru

Posted: Desember 30, 2012 by Admin in Uncategorized

1 Januari 2013 akan kita sambut dalam beberapa jam lagi, semua pihak siap menyambutnya. Tua, muda, wirausaha, pegawai, petani, hingga yang masih tunakarya. Semua merasa berkepentingan dengaqn tahun baru. Namun bagi guru di Indonesia tahun ini merupakan tahun penting untuk dipersiapkan. Sejumlah aturan baru harus siap dilakukan. Mulai Penilaian Kinerja Guru (PKG), Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), hingga kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 sudah diuji publik secara nasional sampai di daerah-daerah di Indonesia. Semua pihak dilibatkan. Mulai Sang Komando Wakil Presiden, Guru Bangsa (Sang Bidan), pengembang, perguruan tinggi, hingga guru-guru semua dilibatkan.
Sebenarnya tidak ada perbedaan secara substansial, yang ada adalah aplikasinya. KTSP yang baru dilaksanakan mulai tahun 2006 yang diharapkan berbasis kompetensi namun dalam aplikasinya “hampir tidak beda” dengan kurikulum sebelumnya. Jumlah mata pelajaran yang banyak, buku yang banyak, PR yang banyak, hafalan yang banyak … membuat beban siswa pada tataran kognitif begitu berat. Sementara pengembangan potensi pikir, kreativitas, dan kebebasan inquiry di alam/sosial secara terbuka “sangat terpasung”: mandeg”.
Kurikulum 2013 menitikberatkan pada keseimbangan aspek attitude, skill, dan knowledge (ASK). Perampingan komposisi konten kurikulum: misalnya di SD dan SMP bersifat tematik, masalah penjurusan di SMA yang lebih fleksibel (masih dalam pembahasan), kurikulum diatur pusat hingga sampai silabus, dan penunjang berupa Buku Pegangan Siswa dan Guru yang “disiapkan” pemerintah membuat beban guru semakin ringan. Beban ringan pada tahap perencanaan, namun beban ditambah dalam hal kreativitas pembelajaran. Guru harus mampu merubah paradigma di kelas dari mengajar ke memfasilitasi siswa belajar. Hal ini merubah gaya belajar siswa dari “diberitahu” menjadi “mencari tahu”.
Nah, bagaimana dengan kita? Mau tidak mau kita harus menyesuaikan. Mari tahun 2013, yang orang bilang “tahun kiamat” kita jadikan “tahun berkat” bagi anak-anak Indonesia dalam menyongsong masa depannya yang penuh tantangan. Pelajari buku “Belajar abad XXI” untuk memandu kita menyiapkan diri sebelum berdiri di kelas. Kita semua harus bersyukur, membidani generasi Indonesia Emas, dengan kado istimewa di seratus tahun Indonesia Merdeka: INDONESIA YANG MADANI (Nurhadi, Jayapura)

Melalui berbagai kegiatan Diklat keguruan di Papua dapat diketahui, bahwa masih banyak guru pesimistis dengan diluncurkannya Kurikulum 2013. Ada yang bingung, pasalnya Kurikulum Berbasis Kompetesi 2004 dan KTSP 2006 saja belum dilaksanakan dengan baik, belum sampai 10 tahun akan muncul ‘makhluk baru’ Kurikulum 2013.  Sebenarnya, permasalahan yang urgen justru bukan terletak pada ‘nama’ maupun ‘bentuk’ kurikulum. Apa pun nama dan bentuk kurikulum pengganti, kalau tidak disertai komitmen guru untuk merubah gaya (performance), pendekatan, strategi maupun metode pembelajaran adalah sia-sia belaka. Sebagaimana KBK dan KTSP, sebenarnya kurikulum 2013  menuntut pembelajaran yang mengarah kepada pembekalan kecakapan hidup (life skill) bagi anak didik. Hanya saja ide munculnya kurikulum 2013 yang dikomandoi oleh Guru Bangsa yang dibentuk Bapak Wakil Presiden Indonesia menekankan kepada pemberdayaan ASK (attitude, skills dan knowledge) secara terpadu melalui proses pembelajaran.

Yah “proses pembelajaran”; lagi-lagi melibatkan keterampilan guru untuk mendesain dan melaksanakan pembelajaran yang lebih besar mengaktifkan siswa. Dalam hal ini paradigm baru yang muncul yaitu siswa: “DARI DIBERITAHU” menjadi “MENCARI TAHU”.  Kecakapan hidup akan diperoleh siswa, ‘jika hanya’ proses pembelajaran lebih banyak melibatkan keaktifan dan kreativitas siswa untuk mencari tahu (learning to know), melakukan sesuatu (learning to do), kemampuan untuk menjadi diri sendiri (learning to be), serta belajar kooperatif/bekerja sama dalam memecahkan masalah (learning to life together).

KTSP yang telah memberikan otonomi implementatif kepada daerah  dan sekolah (baca: guru) dalam porsi yang lebih besar, sehingga memungkinkan guru mengembangkan seni dan gaya mengajarnya, ternyata di kelas kurang maksimal. Di dalam berbagai pertemuan guru banyak yang mengaku, bahwa apa pun kurikulumnya jika CARA MENGAJAR GURU TIDAK BERUBAH ya tidak aka nada perubahan. Banyak guru mengaku kesulitan mengembangkan Standar Isi ke dalam perencanaan pembelajaran, sehingga terjadi berbagai variasi yang kurang efektif mengarah kepada SKL. Oleh karena itu dalam Kurikulum 2013 pemerintah mengambil kembali porsi tersebut, sehingga guru tinggal membuat RPP dan melaksanakan sesuai arahan silabus yang telah dikembangkan pusat.

Jadi guru tidak lagi terlalu berat menyiapkan administrasi perencanaan pembelajaran tetapi lebih banyak MENGASAH PELAKSANAAN PEMBALAJARAN EFEKTIF: AKTIF, INOVATIF,  KREATIF, dan MENYENANGKAN. Guru lebih banyak mengembangkan atau memfasilitasi siswa belajar dengan mengalami. Pengalaman siswa melalui interaksi dengan lingkungan belajar sesuai tujuan pembelajaran (contextual teaching and learning). Sehingga siswa akan mengalami proses belajar yang penuh makna (meaningfull learning) serta menyenangkan (enjoyfull). Inilah demokrasi dalam pembelajaran, yaitu suasana belajar yang merupakan perwujudan proses dari, oleh dan untuk siswa. Jadi profesionalisme gurulah yang dituntut, untuk senantiasa mampu merancang skenario dalam Rancangan Pembelajarannya (RP), sebagaimana kelincahan seorang pembuat skenario dalam sebuah drama (kegiatan pembelajaran).

Program PKB yang harus dilakukan guru sepanjang tahun memungkinkan guru BERKOLABORASI dengan guru lain melalui MGMP, KKG dan sejenisnya untuk mewujudkan kemampuan tersebut. Lesson Study yang sudah sering kita dengan dan sudah diterapkan di beberapa daerah dapat dijadikan wahana belajar dalam rangka PKB. Nah dalam tulisan ini akan diingatkan kembali: apa dan  bagaimana Lesson Studi dilaksanakan. Apa manfaatnya dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru, serta manfaat lainnya dapat dicermati melalui tulisan di bawah ini.

 

Lesson Study (LS)

Pada saat-saat tuntutan professional yang kian menguat ini, ada kabar gembira bagi semua guru yang sedang pesimistis. Karena Lesson Study (LS), sebuah model pengembangan profesionalitas secara kolaboratif asal Jepang, telah mulai dibudayakan di Indonesia. Fernandez  dan Yoshida (2004:7) mengemukakan, “lesson study (LS) is a direct translation for the Japanese term jugyokenkyu, which is composed of two words: jugyo, which means lesson, and kenkyu, which means study or research. As denoted by this term, lesson study consists of the study or examination of teaching practice”.

Dalam uraian di atas jelas, bahwa LS merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang (Negara asal LS, penulis), yang terdiri dari kata jugyo (lesson=Eng) dan kyenkyu (study or research). Berdasarkan istilah tersebut, LS dapat diartikan sebagai suatu studi atau langkah-langkah pemeriksaan (menilai dan menyempurnakan) terhadap kegiatan praktik mengajar di kelas. Bagaimana guru-guru di Jepang melaksanakan proses ini dalam kegiatan LS? Mereka melaksanakannya dengan rumus: plan, do, see. Pertama, sekelompok guru mempersiapkan LS dengan cara mendiskusikan suatu rencara kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh seorang guru di antara mereka, mulai dari menganalisis kompetensi, merancang scenario dalam RP, media, alat dan proses penilaian yang disesuaikan kondisi siswa.  Kegiatan ini disebut plan.

Selanjutnya guru yang mendapat kesempatan tersebut melaksanakan praktik pembelajaran di kelas, sedangkan yang lainnya melakukan pengamatan terhadap perilaku belajar siswa. Kegiatan ini dinamakan do.Setelah itu diadakan kegiatan refleksi tentang bagaimana praktik pembelajaran dilaksanakan, sesuaikah dengan scenario yang telah dirancang di RP? Hal ini juga sangat mempertimbangkan hasil pengamatan dari guru-guru pengamat, dengan maksud untuk lebih menyempurnakan praktik pembelajaran yang akan dilakukan ke depan, baik bagi guru pemeran maupun guru-guru pengamat. Kegiatan ini dinamakan see.

Lebih lanjut Fernandez  dan Yoshida (2004:7-9) mengemukakan:

There are 6 (six) steps to implement of the lesson study: (1) Collaboratively Planning the Study Lesson, (2) Seeing the Study Lesson in Action, (3) Discussing the Study Lesson, (4) Revising the Lesson (Optional), (5) Teaching the New Version of the Lesson  (Optional), and (6) Sharing Reflections About the New Version of the Lesson.”

 

Dari uraian tersebut dapat diartikan, ada 6 (enam) langkah untuk melaksanakan LS, yaitu: (1) memusyawarahkan/menyiapkan rencana LS secara bersama-sama, (2) mengamati pelaksanaan LS secara bersama-sama, (3)  mendiskusikan/menilai pelaksanaan LS pertama, (4) memperbaikinya, jika diperlukan, (5) melaksanakan pembelajaran dengan model baru, hasil revisi, dan  (6) refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran yang disempurnakan tersebut.

Hendayana dkk (2006:10) mengatakan, bahwa LS adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Selanjutnya dijelaskan, LS dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksi) yang berkelanjutan. Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continuous improvement).

Dari uraian di atas kita memperoleh informasi yang cukup tentang LS, bahwa LS merupakan salah satu ‘model pembinaan profesi pendidik’ melalui suatu kegiatan pengkajian pembelajaran secara kolaboratif/bersama-sama dan berkelanjutan tanpa akhir dengan prinsip kolegalitas, yang meliputi tiga proses kegiatan; plan, do dan see.  Hal ini merupakan angin segar bagi guru, bahwa dengan segala keterbatasan dan ke-pesimistisannya untuk mengemban tuntutan pembelajaran bermutu dan berpusat pada siswa, maka  LS-lah jalan keluarnya. Sekelompok guru dapat bertukar pikiran, berbagi pengalaman, mendiskusikan berbagai kesulitan dalam praktik pembelajaran, untuk selanjutnya secara bersama-sama meramu/merencanakan, melaksanakan, serta mengadakan refleksi demi perbaikan praktik pembelajaran berikutnya. Dapat dibayangkan, apabila guru pemeran ini bergiliran, dan kegiatan dilaksanakan secara kontinyu,  maka dapat diprediksi kegiatan ini ‘tak kan pernah berakhir (never the end.).

 

Kiat Mengembangkan dan Melaksanakan LS

LS dapat dikembangkan di tingkat sekolah atau MGMP oleh sekelompok guru yang sejenis maupun serumpun, asalkan memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas praktik pembelajarannya. Komitmen adalah ‘harga mati’ sekaligus syarat untuk bisa terbentuknya kelompok LS. Niat kuat, semangat dan usaha yang konsisten untuk berubah merupakan bentuk komitmen yang harus ada bila ingin mengembangkan LS. Ya, meskipun LS hanya dilakukan oleh sekelompok yang berjumlah dua orang guru!

Menurut Lewis (2002: 51-52), ada beberapa tahapan untuk mengimplementasikan LS, yaitu: (1) Membentuk grup LS, (2) Memfokuskan kegiatan LS, yaitu memilih mata pelajaran dan topiknya (lesson), (3) Merencanakan research lesson (RL), (4) Mengajar & mengamati RL, (5) Mendiskusikan dan menganalisis RL, dan (6) Merefleksikan LS  dan merencanakan tahap berikutnya.

Secara ringkas pelaksanaan kegiatan mengajar dan mengamati saat RL berlangsung, yaitu: guru yang ditunjuk mengajar lesson yang sudah ditetapkan, anggota kelompok yang lain mengamati lesson tersebut, dan pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Data yang dikumpulkan selama LS tersebut hendaknya mengacu pada beberapa indicator RL, sehingga terkumpul bukti tentang:  bagaimana siswa belajar, bagaimana motivasi siswa,  bagaimana iklim sosial/suasana hubungan di kelas,  ucapan atau ceramah guru, dan  waktu yang digunakan guru pada setiap elemen/langkah pelajaran. Inilah yang digunakan sebagai indikator observasi oleh para guru pengamat, yang selanjutnya dijadikan perhatian saat diadakan refleksi. Melalui tanggapan dari seluruh peserta LS saat refleksi tersebut, diharapkan akan terjadi perbaikan terhadap pelaksanaan indikator-indikator RL tersebut dalam kegiatan LS berikutnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat refleksi, yaitu: guru yang mengajar RL diberi kesempatan menjadi pembicara pertama dan mempunyai kesempatan untuk mengemukakan semua kesulitan dalam pelajarannya sebelum kesulitan tersebut dikemukakan oleh yang lain. Sebagai suatu aturan main, pelajaran yang disampaikan merupakan milik semua anggota kelompok LS. Ini adalah pelajaran “kita”, bukan pelajaran “saya”, dan hal ini direfleksikan dalam setiap keterangan setiap orang. Dimana semua anggota kelompok berasumsi bahwa mereka bertanggungjawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang ada pada pelajaran tersebut.

 

Senjata Ampuh Mengembangkan Keprofesian Guru

Jika kita jujur, kita akan mengakui bahwa kualitas pembelajaran di kelas kita masih rendah. Pendekatan siswa sentries, metode tradisional ceramah dan tanya jawab, kurang variatif (monoton) masih banyak mewarnai kegiatan pembelajaran di kelas. Kenapa siswa jemu, lesu dan tidak bersemangat belajar? Kenapa guru juga bosan, lesu, sering marah saat berada di kelas? Permasalahan sama antara siswa dan guru, yaitu suasana monoton, tidak menyenangkan, tidak menantang, dan ‘itu-itu saja’!

Uji kompetensi sudah dilaksanakan dan hasilnya sudah banyak disosialisasikan. Guru telah dipetakan level profesionalitasnya, dan tentu akan berimbas kepada penghargaan yang akan diterimanya. Jadi apabila kita ingin “dihargai” secara lebih baik (menjadi sejahtera), sudah sepantasnya kita berubah pula (kualitas profesi kita). Sebagian besar guru justru aktif mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan sejenisnya untuk mendapatkan sertifikat, bukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran: melalui penelitian tindakan kelas, misalnya.

Adalah tidak adil jika kita cukup puas dengan derajad pelayanan professional kepada anak bangsa ini seperti saat ini. Kita harus meningkatkannya semaksimal mungkin. Jika seorang diri merasa berat, kenapa tidak berkolaborasi dengan guru-guru lain melalui LS. Dengan LS, suasana saling ‘asah, asih dan asuh’ (saling berkompetisi, saling menerima, dan saling memberi) terjadi. Setiap diri pasti memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih atau kurang. Dengan berkolaborasi, masalah di atara kita akan terpecahkan. Yah, menjadi guru profesional. Pastikan Anda menjadi inspirator, bahkan pioneer terbentuknya kelompok LS di sekolah atau KKG/MGMP di mana Anda berada! Ajaklah siapa saja yang ingin berubah, dan mau merubah nasib anak bangsaq menuju Generasi Emas 2045!

Salam sejawat dan seperjuangan (Nurhadi, SMAN 5 Jayapura Papua)

Lounching blog guru berprestasi nasional

Posted: Desember 14, 2012 by Admin in Uncategorized
Gurpres 2012

Nurhadi

Selamat bergabung dengan blog “GURUBERPRESTASINASIONAL” yang dilounching pada saat Bintek Gurpres 2012 di Hotel Jayakarta Jakarta. Siapa saja guru yang ingin berprestasi boleh bergabung dengan blog ini, dengan ketentuan:

1. Memberi opini demi memecahkan permasalahan kependidikan

2. Sharing, atau bertukar informasi, talenta, produk kependidikan yang berguna untuk meningkatkan kualitas kependidikan

3. Informasi pelaksanaan kurikulum 2013 di daerah/sekolahnya masing-masing

4. Kiat-kiat menuju guru berprestasi dan berdedikasi

5. Penilaian Kinerja Guru (PKG) dan Pengembangan  keprofesian berkrlanjutan (PKB)

6. Lain-lain tulisan yaqng bermanfaat

Silakan kontribusi tulisan Sdr dikirim via email: gurpres_2012@yahoo.co.id sebelum pihak admin menampilkan tulisan Sdr akan disunting terlebih dahulu. Mohon tulisan tidak mengandung:

- Pendeskreditan suku, agama, ras, golongan, pribadi

- Bahasa yang menimbulkan berbagai penafsiran (ambigu)

Teknis penulisan:

Disusun dengan urutan: permasalahan-pembahasan-kesimpulan dan rekomendasi/saran-daftar pustaka dan foto (jika ada)

- Diketik dalam form Ms. Word sekitar 2-5 halaman kwarto dengan spasi 1,5

- Kaidah penulisan ilmiah populer (aktual, segar, lugas, dengan memperhatikan kaidah APIK (asli-perlu-ilmiah).

Kami tunggu tulisan dan info linking Sdr ke berbagai website yang bermanfaat bagi pengembangan profesionalisme guru.

Bangkitlah guru Indonesia mengantarkan siswa menuju Generasi Emas 2045.

Daftar Personel Guru Berprestasi Angkatan 2012

Posted: Desember 6, 2012 by Admin in Uncategorized

30042010(009)

Pembina: Sarwin, M.Pd (Kasi Karir Dir. PPTK Dikmen); Hp1812280142003; Email sarwinzain@gmail.com).

Personel Gurpres Angkatan 2012 adalah:

  1. Nurhadi M.Pd; SMA Negeri 5 Jayapura; Hp 081344333019; Email wongbagus_nurhadi@yahoo.com; elearning http://civicsindonesia.freewebclass.com;  Website http://campus.educadium.com/kompetensiguru
  2. Rita Candrakasih; SMA N 2 Bengkulu Selatan; 081373414927; email: kasihritacandra@ymail.com
  3. Dra. Sitti Hasnidar, M. Pd; SMA N 8 Banda Aceh; 085260798137; Email: hasnidar.sitti@gmail.com
  4. Sri Kurnia Dewi; SMA N 4 Barabai Kal-Sel; 085345681961; Email: dewisri1048@yahoo.com
  5. Karjono; Pengawas Disdik Kab.Pesawaran; 081379363886; Email: karjono@yahoo.co.id; Blog http://rppsilabusterbaru.com
  6. Yulia Catur Hapsari; SMA N 1 Seyegen; 081328726465; Email: yulia.caturhapsari@ymail.com
  7. Neny Tryana; SMA Plus N 2 Banyuasin III; 07117036557; Email: tryananeny@yahoo.co.id
  8. Yudith Dengo; SMA N 3 Gorontalo; 08124463105; Email: yudithdang0@yahoo.co.id
  9. Halimatang; SMA N 3 Palu; 085241423771 / 085220221069; Email:halimatang_72@yahoo.com
  10. Suwarti; SMA N 3 Tidore; 081340394233
  11. Marjohan; SMA N 3 Batusangkar; 085263537981; Email: marjohanusman@yahoo.com
  12. Zufri Ngampu; SMA N 1 Tasbar-NTT; 085239375001; zufri0708@gmail.com
  13. Achmad Djaya Adi; SMA N 2 Raha-Sultra; 085241995045; acjaya_adila@yahoo.co.id
  14. Mochamad Solehudin; SMA N 2 Ciamis-Jabar; 08122303255; Email: mochamadsolehudin@ymail.com
  15. Sanserlis F.Toweula; SMA N 30 Jakarta; 081314066855; Email: sanserlis@gmail.com
  16. Achmad Alwan Fatwani; SMA N 4 Kota Tangsel-Banten: 08129612427: Email: alwan-sman4@gmail.com
  17. Tjahjono widijanto; SMA N 1 Ngawi-Jatim: 08243785362; Email: tjahwid@yahoo.co.id
  18. Soleh Amin; SMAN 3 Semarang-Jateng; 08122910294; Email: soleh_amin_smaga@yahoo.co.id; http://solehamin.wordpress.com
  19. Fahriannor Iswani: SMA N 3 Kuala Kapuas; 085349309944; Email: fahriiswani@ymail.com
  20. Syahidin; SMA N 1 Bunguran Timur; 081364744727; Email: adis_com@yahoo.co.id
  21. Yudi Setiawan; SMA N 1 Cikembar-Jabar; 08179286019/081519191117; Email: yd_smarsi@yahoo.com
  22. Drs. Sumarno, M.Si; SMA N 1 Matauli Pandan-Sumut; 081360074483: Email: sumarno 5152@gmail.com
  23. Dra. Rosita Uli Sihombing, M.Pd; SMA N 1 Pangkalpinang Bangka-Belitung; 08127172125; Email: rositasihombing@gmail.com
  24. Luh Made Sri Yuniati; SMA N 1 Kuta-Bali; 081353048488; Email: lmdsriyuniati@gmail.com
  25. Dra. Sapti Sri Rahayu; SMA N 1 Kota Jambi; 081366053278; Email: saptir@ymail.com
  26. Novita I Choesni; SMAN Siwalima Ambon; HP 081357256773, Email novitachoesni@gmail.com
  27. Muliadi S.,S.Pd.,M.Pd; SMAN 1 Majene;HP 081355910751,Email Mul_lis@yahoo.co.id
  28. Joko Pramono; SMAN 1 Kopang, Lombok Tengah, NTB; 081805231985; Email anggermp120595@rocketmail.com
  29. Ibrahim; SMAN 1 Pontianak; 08125735453; Email ibrasmansa@yahoo.co.id
  30. Drs Hermie marasi M.Pd SMA N 9 Manado 081340309263 hermie.marasi@yahoo.com
  31. Fatmawati SMA N 1 SOPPENG 085242166831 fatmawati_dalle@yahoo.com
  32. Bambang Karyawan
  33. Widagdo